Bsimillah…
Dalam getaran yang berlalu seperti hari-hari sebelumnya. KAU hadir kembali menghentakkan seluruh jiwa agar tunduk kembali pada-Mu. Seperti senja yang selalu terkenang, kemudian gerimis di awal malam yang dingin dan membekukan, memoar-memoar itu kembali terjadi namun dalam bahasa yang tak biasa. Kali ini terasa berbeda. Ketika satu persatu perenungan mulai menggugurkan keangkuhanku agar lebih merasa bahwa sungguh, tak ada yang lebih mulia selain kesholihan yang berbalut dengan hati yang ikhlas dalam beramal hanya karena-Mu.
Menyadari, betapa titik-titik khilaf itu membuat diri ini semakin abu-abu jika tak ingin dibilang sebagai lumpur hitam yang pekat. Ahhh… apalagi yang paling indah selain amalan yang bercahaya, jiwa yang tersemai dan selalu tertaut dengan-Mu, mata yang senantiasa tunduk dalam pandangan ke-tawadhu-an di hadapan-Mu, serta sentuhan-sentuhan akhlaq yang mengagumkan dalam balutan kematangan pribadi di dalam diri. Keindahan itu, terasa begitu jauh untuk disentuh, apalagi jika diharap untuk kumiliki.
Lalu, haruskah kuhentikan do’a agar yang menjadi imaji itu bisa datang menghampiri ? Sedangkan kenikmatannya, jika saja diketahui oleh semua penduduk bumi, tentu mereka akan berlari menghimpunnya untuk dikumpulkan dalam pribadi-pribadi mereka, meski itu melelahkan, menjenuhkan, atau bahkan menguras habis energi yang dimiliki. Sungguh, impian ini tak boleh sedikitpun hilang dan pergi.
Sekarang, kita tak lagi berbicara soal JIKA dan JIKA, namun lebih kepada PANTAS dan TAK PANTAS. Kalau saja engkau merasa tinggi, sejatinya dirimu tak lebih hanya karakter yang hina, sebab orang yang bijak, tak pernah merasa bijak, apalagi orang yang shalih, mereka sama sekali tak pernah merasa sholih. Lalu, rasa tinggi, angkuh, merasa hebat, pantaskah kau pakai ? sedangkan sifat SOMBONG, hanya berhak dimiliki oleh-Nya.





