RSS

Arsip Bulanan: November 2011

#Cinta

Bismillah..

Orang menamakannya #cinta yang defenisinya sampai saat ini tak berwujud, tak terjemahkan.

Mungkin karena ia berkaitan dengan rasa, hingga pemahamannya tak lagi bisa dianalogikan dengan apapun, sebab #cinta hanya untuk dirasa.

Sayangnya, #cinta merebut semua tempat di seluruh bagian hidup seseorang. Yang lemah menjadi kuat, yang sombong menjadi rendah hati, bahkan yang penakut menjadi sang pemberani. Karena #cinta, dalam arah positif-maupun negatif, perubahannya selalu akan mengagetkan.

Kalau #cinta menjadi begitu penting bagi hidup seseorang, maka segalanya akan direbut olehnya. Bekerja karena #cinta, berkarya karena #cinta, hingga berlelah-lelah karena #cinta.

Namun sayangnya, ketika #cinta hanya terpahami sbg kata benda, ia kemudian menjadi roman picisan yg tak bermakna lagi sia-sia. #cinta hanya menjadi rasa yg memabukkan. Setiap helaan nafas adalah #cinta, setiap langkah adalah #cinta, namun ia begitu melemahkan.

#cinta yg terjemahkan dalam kata benda, hanya memberi kebahagiaan rasa tanpa merubah banyak hal, bahkan justru banyak yang melemahkan. waktu kita terkuras habis dengan #cinta, pikiran tersita habis karena #cinta, hingga setiap detik yg terlewati hanya ada #cinta di dalamnya.

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 AMpMon, 28 Nov 2011 11:27:12 +000027Senin 2007 in Me, Puisi

 

Kaitkata:

Karena Kamu

Bismillah…

Kau adalah bait-bait terindah dalam puisi-puisi penantianku di waktu dulu, hingga sampai detik inipun. Keindahan maknanya masih terasa. Sebab kamu hadir setelah do’a dan ikhtiar panjang nan melelahkan yang kulakukan. Dan untuk kesekian kalinya. Kau memberi banyak sekali arti bagi diri. Arti yang sangat rumit untuk kuterjemahkan.

Kau adalah bait-bait terindah dalam puisi-puisi tentang cinta di waktu sekarangku, hingga sampai kapanpun, do’aku adalah kau tetap menjadi yang terindah di hati, yang termanis dalam perjalanan panjang cinta kita. Dalam tiap debar hangat karena sakinah yang terlahir dalam kebersamaan. Ungkapan tentang semangat memperbaiki diri dalam mawaddah dan rahmah yang kita usahakan bersama. Sampai kapanpun, aku ingin kita seperti itu. Seperti puisi-puisi nan menggairahkan yang telah kita sempurnakan bersama.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 PMpSun, 20 Nov 2011 13:49:37 +000049Minggu 2007 in Me

 

Kaitkata: , ,

Lalu Siapa?

Bismillah…

Kalau bukan karena Allah, lalu siapa yang bisa menjamin jiwa ini masih hidup senantiasa. Juga nyawa ini masih lapang dalam melangkah. Kalau bukan karena Allah, lalu siapa?

Kalau bukan karena Allah, lalu siapa yang bisa memberi nafas dalam kesegaran. Juga memberi nikmat yang tak berpenghabisan, hingga kitapun tenang, tanpa kurang satu apapun. Kalau bukan karena Allah, lalu siapa?

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 AMpSat, 19 Nov 2011 05:24:12 +000024Sabtu 2007 in Taiwan-Studi

 

Kaitkata:

Apalagi Yang Tersisa ?

Bismillah…

Apa lagi yang tersisa kini, ketika satu persatu doa itu KAU jawab. Ketika satu persatu kelapangan itu KAU hadirkan. Apalagi yang tersisa kini, selain kealpaan yang sering hadir dalam hari-hari kami yang silih berganti. Apalagi yang tersisa kini, ketika KAU akhirnya memberi jawab atas setiap pertanyaan dan tuntutan kami. Apalagi yang tersisa kini, selain hari-hari kami yang miskin penghambaan. Hari-hari kami yang jarang sekali merasakan hadir-Mu, hari-hari kami yang lalai, beserta tumpukan dosa yang tak habis-habisnya. Apalagi yang tersisa kini ?

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 AMpFri, 18 Nov 2011 11:39:15 +000039Jumat 2007 in Me

 

Kaitkata:

[Notes of Taiwan] Muda dan Professional

“Selagi muda, janganlah berfoya-foya. Karena kesempatan untuk berkarya justru ada senantiasa. Kita tinggal mengambil pilihan besar dalam hidup kita selanjutnya. BERKARYA, atau kau akan merana di hari tua

Bismillahirrahmanirrahim…

Saya terpaku di dalam elevator menuju ruangan lab di lantai 6 gedung E2 Taiwan Tech tanpa bisa bergerak. Pandangan saya hanya tertuju pada pintu elevator yang setiap lantai selalu memberikan aba-aba dengan bahasa Mandarin berbeda-beda, tentu saja ia memberi petunjuk sudah dilantai berapa kami berada. Tiba-tiba saja, secara tak sengaja, saya menyadari bahwa ada 2 Professor sedang berdiri persis di samping saya.

“Oh.. Hi Professor…” Sapaku segera. Dengan senyum hangat dan ramah.
“Oh Hi.. “ Beliau membalasku, begitu juga dengan Professor muda lain yang berdiri disampingnya.

Prof. Chun Tao Chen namanya, umurnya saya taksir baru menginjak 35 tahun, menyelesaikan PhD di tahun 2003 lulusan University of Illinois, USA. Sosok sederhana dan sangat ramah kepada siapapun. Berdiri tepat disampingnya adalah Prof. Min Yuan Chen, seorang Professor muda lulusan The University of Michigan, USA, usianya bahkan baru memasuki 30 -an, beberapa tahun lebih muda dari Prof. Chun. Beliau adalah faculty baru di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) di jurusan Teknik Sipil. Kesan yang banyak dari beliau adalah “killer, teliti, dan berkualitas”, cukup berbeda dengan Prof. Chun. yang ramah, image Prof. Min Yuan Chen memang cukup terdengar “menyeramkan” setelah beberapa kali menjadi examiner di ujian defense mahasiswa Master, yang berakhir cukup menegangkan.

Saya kemudian mempersilahkan mereka meninggalkan elevator terlebih dahulu.

“Thank you…” Sapa Prof. Min Yuan Chen

“You’re welcome..” Jawabku ramah.

Keduanya kemudian larut dalam diskusi ringan sambil tersenyum tepat di depan saya. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 PMpTue, 15 Nov 2011 22:42:25 +000042Selasa 2007 in Taiwan-Studi

 

Kaitkata: , ,

“kita”

Bismillah..

Dulu, jika “aku” adalah “aku” dengan satu porsi, tanpa ada intervensi.

Namun kini, “aku” menjadi “kita” dalam satu wadah, namun saling mengintervensi.

Sejatinya, dulu dan kini tidaklah berbeda, yang membuatnya jadi bahan pertanyaan adalah “kemudian”.

“kemudian” yang akan menjawab untuk apa “aku” menjadi “kita”, dan “kita” menjadi punya banyak sekali persoalan untuk mampu dipahami.

“kemudian”-lah, yang akan perlahan memberi jawab, untuk apa “aku” beralih menjadi “kita”, dan kenapa “kita” selalu menyempurnakan..

“kau” dan “aku” yang kemudian menjadi “kita”, bukanlah sebuah kata sembarangan. Sebab bagi “kita”, ikatan ini menyejarah, ikatan ini memberi arti bagi dunia, ikatan ini bukanlah ada tanpa do’a, justru ia hasil dari ikhtiar dan do’a yang “aku” dan “kau” ciptakan pada sujud-sujud petang kita.  Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 AMpSat, 05 Nov 2011 03:08:45 +000008Sabtu 2007 in Me

 

Kaitkata: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.