RSS

Sebuah Pertanyaan

08 Jan

Bismillah…

Hendak ku mulai mengukur diri. Melihat sejarah yang penuh cahaya di ribuan tahun lalu. Ketika gigilan Sang Manusia mulia terhamburkan dalam pelukan Khadijah Sang Mujahidah Sholehah sembari lirih berkata “Selimuti aku.. Selimuti aku..”. Keringat dingin keluar dari tubuhnya ketika menyaksikan Jibril datang di antara langit dan bumi, mengirimkan pesan dari Allah sembari menisbatkannya sebagai utusan pembawa RIsalah cinta dari Tuhan untuk dunia. Maka Sang Manusia Mulia ini, telah mengajarkan kita sesuatu, bahwa membawa kata-kata Tuhan ke bumi itu bukan perkara ringan, maka tak sepantasnya kita meringan-ringankan pekerjaan itu, sedang Sang Rasul mulia meletakkan keseluruhan hidupnya untuk jalan ini. Jalan dakwah yang (katanya) kita adalah bagian darinya…

Aku juga mulai menelaah pengorbanan Abu Bakar Ash-sidiq, generasi awal sahabat paling mulia yang membawa Risalah nabi dengan keindahan akhlaq-nya. Bukan hanya akhlaq-nya, tapi ia adalah sosok berwibawa dan paling jujur di kalangan quraisy meski status sosialnya paling rendah di antara mereka. Perangainya yang santun, hatinya yang lembut, dan jiwa sosialnya yang begitu kuat mampu menggulirkan dakwah dalam sebuah proses yang luar biasa. Dengan hasil yang cemerlang tiada terkira. Dialah seorang yang membenarkan Rasul, ketika yang lain tidak. Dialah tonggak gerbang masuknya beberapa sahabat mulia yang kemudian mengindahkan jazirah arab dan dunia hingga kini. Darinya, setidaknya kita belajar, bahwa dakwah itu KETELADANAN, dakwah itu harus dilakukan oleh mereka yang perangainya mulia, oleh mereka yang dekat dengan bangsanya, oleh mereka yang benar-benar paham seluk-beluk lingkungannya. Dakwah itu sebuah totalitas yang tak bisa main-main dijalankan. Ia harus purna, tak terbatas oleh ruang juga waktu. Ia harus selalu ada seburuk apapun kondisi kita.

Kemudian Aisyah RA, memberi pesan tentang kecerdasan seorang perempuan yang paling sempurna. Menunjukkan kepada dunia bahwa Zat terbaik yang harus di pegang teguh adalah ALLAH SWT, hanya Allah yang menjadi jantung kehidupan kita, karena keadilannya telah mampu menumbuhkan setiap pribadi kita menjadi orang-orang yang di hargai dunia. Aisyah dengan perkataan lirihnya, meski dalam kesedihan yang berkecamuk telah menegaskan, bahwa fitnah yang ditimpakan kepadanya bersama Shafwan, adalah sebuah berita yang hanya Allah mampu meluruskannya, hingga dedikasi penghambaan dan terima kasih terbaik adalah HANYA UNTUK ALLAH, tidak kepada Makhluq-Nya. Dari keteguhannya menjaga kehormatan, terpancar pula sebuah oase penting yang tak boleh luput dari kita. Bahwa dakwah yang berjalan, hanya akan mampu menghasilkan kerja-kerja luar biasa jika dikelola mereka yang teguh lagi kuat cintanya pada Allah. Harus diemban oleh mereka yang benar-benar tahu posisi penghambaan-Nya dihadapan Allah. Sedangkan kita? ahh.. apa yang kita punya.. Kita hanya punya sisa-sisa waktu untuk menyelesaikan satu persatu amanah. Kita hanya punya sisa-sisa tenaga untuk menelaah lembar demi lembar surat cinta dari Allah, sedangkan ia adalah bekal terbesar kita. Kita hanya seonggok debu dijalanan yang mengaku telah bersama dakwah, tapi kenyataannya kita bukan apa-apa.

Dan Mushab bin Umair memberi contoh yang paling menakjubkan tentang pengorbanan dalam menuju Allah. Jika ketampanan adalah yang kita miliki. Maka Mushab dipastikan melebihi anda. Keindahan parasnya, keindahan perangainya, juga kemegahan pakaiannya adalah contoh nyata betapa ia begitu di puja oleh para wanita Mekkah. Mushab adalah contoh nyata seorang pemuda yang memiliki segalanya. Hanya saja, kesempurnaan terlengkap yang ia punya kemudian ia tinggalkan demi Allah dan Rasul tercinta. Ancaman Ibunya, seorang wanita terkasih yang ia cinta sepenuh jiwa tak mampu menghentikan gerak langkah dakwahnya. Ia berhijrah dengan sempurna, bukan hanya tampilan fisik belaka, tapi hatinya telah dipenuhi semangat menggebu mengantarkan Islam pada sebuah kejayaan yang tak terkira. Meski kemudian ia miskin, papa, lagi tak setersohor sebelumnya, keyakinannya untuk berjuang di jalan Allah tak pernah kendur hanya karena dunia. Tapi ia menggurita, mengakar dan mencengkeram kuat di dalam hatinya. Maka sejarahpun mengabadikan namanya. Ia menjadi penanda duta Islam pertama menuju Yatsrib, sebuah wilayah mahsyur karena oasenya yang indah di jazirah Arab. Mushab-pun kemudian berhasil mengantarkan Islam hingga tak ada satu rumahpun di Madinah yang penghuninya tidak mengagungkan Allah dan Rasul-Nya. Tapi kemudian, kalian tahu bagaimana akhir hidupnya? ia syahid di perang Uhud dengan kondisi porak poranda, tubuhnya dirusaki oleh kaum musyrikin quraisy tanpa ada perasaan iba. Ia berjuang dalam sebuah pengorbanan yang sempurna. Dalam hijrahnya yang luar biasa, Allah kemudian membuatnya menjadi seorang yang mulia dalam kematian di Uhud yang panas dan penuh darah. Kain kafan memang tak cukup menutupi tubuhnya, tapi do’a-do’a terindah terkirim manis untuknya, dan surga telah menunggunya. Lalu dimanakah kita? dimanakah kita yang bahkan sampai detik ini belumlah apa-apa. Yang bahkan detik ini pengorbanannya hanyalah pengorbanan biasa lagi tak bernilai harganya. Lalu dimanakah kita jika kemudian Allah bertanya apa yang sudah kita lakukan bersama orang-orang mukimin? dimanakah kita…

Kita memang tak ada apa-apa. Bahkan masih miskin karya, atau sama sekali memang tak ada apapun yang kita tinggali untuk dakwah tercinta. Kita hanya penumpang-penumpang gelap di gerbong dakwah yang kemudian semakin hari lemah tak terkira. Lalu jika kita tak cambuki diri, jika kita tak menohok mata hati, apalagi yang bisa kita lakukan untuk membuat kita semakin sadar dimana posisi diri ini? Mungkinkah ia hanya penumpang-penumpang yang hanya merusak, atau memang kita adalah orang-orang yang telah banyak memberi?

Taipei, 08 Januari 2012

-sebuah tulisan untuk diri-

~ Yusuf Al Bahi ~

 

Tentang almuhandis

Selamat Datang di halaman Ario Muhammad... Hanya sebuah blog sederhana untuk menuangkan cerita sederhana yang terangkum dalam hidup saya yan
1 Comment

Posted by pada 3 PMpSun, 08 Jan 2012 12:30:10 +000030Minggu 2007 in Dakwah

 

Kaitkata: ,

One Response to Sebuah Pertanyaan

  1. Frida Rangkuti

    3 AMpThu, 09 Feb 2012 01:45:33 +000045Kamis 2007 at 1:45 am

    salam kenal

     

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.