RSS

Arsip Tag: Ikhwan

Beginikah Kita?

Bismillah…

Al-qur’an berukuran sedang ini masih ku pegang. Tiba-tiba hati bergetar. Teringat betapa diri ini miskin Ilmu. Jiwa ini merindu ilahi, tapi jiwa seakan masih sedikit dalam mengabdi. Hafalan al qur’an yang masih setengah-setengah. Keinginan memperdalam ilmu agama yang masih jauh dari sempurna. Lalu bagaimana kita mau menjadi da’i? sedangkan majelis-majelis ilmu hanya hadir dalam sepantaran waktu yang tak berkualitas.

Sore ini, ada azzam yang begitu kuat telah hadir. Tapi masihkah akan bertahan ketika dunia mulai mengambil porsi yang begitu banyak di dalam hati? Ahh.. Kita begitu giat mengais ilmu dunia, sedangkan ilmu akhirat masih menjadi bahan-bahan diskusi ringan tanpa ada keseriusan. Lalu dengan bekal apa kita ingin menjadi da’i?

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 AMpWed, 18 Apr 2012 08:39:41 +000039Rabu 2007 in Dakwah, Ikhwan, Ilmu-Islam

 

Kaitkata: , ,

Masalahnya “disini”

Bismillah…

Ini untuk kesekian kalinya, saya harus mulai belajar mendefenisikan banyak hal untuk membuat pribadi ini menjadi lebih kokoh dan dewasa. Sungguh tak mudah, sebab aku terlahir bukan dari sebuah didikan yang bijaksana. Bukan dari sebuah keluarga yang tumbuh dengan cinta, namun kerasnya kondisi keluarga sejak dulu telah mengajarkan saya banyak hal, juga memberi saya banyak cela yang menjadi kekurangan saya selama ini. Namun saya selalu percaya, bahwa saya masih punya kesempatan untuk belajar. Kesempatan untuk membuat diri ini jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ini sungguh melelahkan. Dari kesekian kali saya bergerak menuju kota utara hingga selatan, ini termasuk masa yang meletihkan. Saya sejatinya, hanya lelah secara psikis. Menghadapi, revisi TOTAL thesis ketika jadwal pulang sudah di tangan, terus-terang membuat saya oleng. Tapi siapa yang peduli ? siapa lagi yang bisa membuat kita bangkit JIKA BUKAN KITA SENDIRI ? mengharap untuk dipahami ? ahh… tak perlu.. Karena setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Ini hanya persoalan ketahanan mental untuk bertarung dalam situasi apapun. Kadang-kadang ini pula yang membuat saya rindu dengan kehangatan ukhuwah di Yogyakarta. ketika sapaan “apa kabar akhi ?” sapaan “bagaimana kondisi hatimu ?” menjadi “makanan” sehari-hari. Bukan hanya sekedar ucapan, tapi justru merasuk ke dalam diri mereka. Ini yang membuat saya tak pernah lupa dengan seorang akhina yang selalu letih tapi tetap tersnyum, meski banyak masalah. Tidak pernah lupa dengan Mr. Arkanul Baiah yang meski dengan kecuekannya dia selalu punya cara untuk membuat saya berterus terang. Saya hanya merasa, “ikatan” itu tak sekuat dulu. Ketika perintah dan amanah hanya menjadi sebuah tugas dari “perusahaan” atau tumpukan-tumpukan final project dari Professor. Ini sebuah pengandaian yang benar-benar terasa. Ketika sudah begini apa solusinya ? tentu saja jawabannya sederhana. SOLUSINYA adalah IMAN. Jika kau cinta ALLAH semua selesai. ITU SAJA… !!!

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 PMpFri, 17 Jun 2011 16:27:29 +000027Jumat 2007 in Ikhwan, Me

 

Kaitkata: , ,

(Cerpen) Kisah 2 Orang Pemuda

Bismillah..

Langit masih terang bederang, sedangkan sinar mentari masih memancarkan hangatnya ditengah bukit-bukit kecil yang terjal. Sungai-sungai yang jernih, terlihat kehijau-hijauan melengkapi kesempurnaan hamparan pemandangan disepanjang perjalan 2 pemuda itu. Mereka masih menarik nafas mereka yang sempat memburu ketika sama-sama mengejar kereta di pagi yang cukup panas. Salah seorang dantaranya menertawakan dirinya sendiri. Entah ini yang keberapa, namun yang jelas, kisah bersama kereta selalu saja membuat banyak tawa. Rupanya, pemuda berbaju cokelat disampingnya masih kelihatan dongkol. Itu menurutku yang menyaksikan mereka berdua tergopoh-gopoh mencari gerbong dan tempat duduk di pagi itu. Seperti biasa, pemuda berbaju cokelat itu masih duduk tenang, meski dengan raut yang masih tak nyaman atas kejaidian yang menimpanya beberapa menit yang lalu. Buatnya -mungkin- ini keteledoran yang tak bisa diulangi :)

Keduanya kemudian melempar senyum. Rupanya mereka adalah sahabat dekat. Cukup dekat sepertinya, terlihat dari bahasa-bahasa yang mereka pakai. Bahasa-bahasa se-frekuensi dengan tema-tema lintas generasi yang hangat mereka bicarakan. Namun, jika kuperhatikan, kedekatan mereka sepertinya juga bukan sebuah kedekatan biasa. Kedekatan yang penuh misi mungkin. Misi keabadian yang mereka cari, meski ketika kuperhatikanpun, mereka tak lebih dari dua pemuda biasa yang masih sama-sama belajar. Belajar mencari cinta lebih tepatnya. Belajar memknai kata cinta menjadi kalimat-kalimat kerja dalam hari-hari mereka. Kata cinta yang berujung pada Allah, Tuhan mereka. Cinta yang -mungkin- mirip defenisinya ketika Umar RA, menggantikan cintanya kepada diri dan keluarga menjadi sebuah cinta melangit untuk Muhammad Sang Nabi mulia. Ya.. saya yakin kedua pemuda itu sedang belajar memaknai ejawantahan perasaan cinta menjadi sebuah kata kerja -semoga-.

Read the rest of this entry »

 
8 Comments

Posted by pada 3 PMpSun, 08 May 2011 22:43:33 +000043Minggu 2007 in Ikhwan

 

Kaitkata: ,

Belajar Dari Mereka

Bismillah..

Terus terang, saya kehabisan kata-kata untuk menerjemahkan semua ini. Entah sudah berapa tulisan yang akhirnya tak bisa saya lanjutkan lagi karena terlalu banyak yang ingin saya sampaikan lewat kata-kata. Sebenarnya hanya sederhana yang ingin saya sampaikan. Dan ini adalah bentuk paling rasional sebagai rasa terima kasih terbaik kepada Sang Maha Pencipta. Saya hanya ingin mengucapkan TERIMA KASIH. Mengucapkan rasa syukur yang tak pernah habis-habisnya untuk Allah, Tuhan saya. DIA yang tak pernah habis-habisnya memberi, sedangkan saya masih sering sekali tertaih untuk memuja-Nya, lemah dalam penghambaan kepada-Nya, belum sempurna untuk memiliki-Nya. Apa lagi yang mau saya tanyakan jika yang DIBERI justru lebih banyak dari apa yang telah saya KERJAKAN. Tentu saja, saya meyakini, bahwa Allah, Tuhan saya yang MAHA HEBAT itu, tak pernah sedikitpun butuh dengan sanjungan dan pujian saya. Karena tanpa sujud yang saya lakukan-pun, tanpa air mata taubat dari seluruh penghuni bumi-pun. Tuhan saya tetaplah agung, tak terkalahkan. Hanya saja, ini seperti perasaan malu yang tiba-tiba sering hadir ketika kedua tanganku mulai kutengadahkan dihadapan-Nya. Perasaan malu ketika mulai meminta, sedangkan Allah telah banyak memberi, perasaan sungkan untuk membujuk sedangkan tak pernah sedikitpun Allah alpa dalam pemberian nikmat kepada saya, perasaan yang membuat saya tersadar, bahwa memiliki Allah dalam hidup adalah jalan terbaik untuk menuju sebuah kebahagiaan hakiki.

Dan untuk semua nikmat yang telah diberi Allah untuk saya. Rasanya tak lagi ada alasan untuk tidak BERSYUKUR. Tak ada lagi alasan untuk mengeluh sedangkan pemberian-Nya begitu melimpah. kesediannya untuk memberi tak pernah habis meski laku kita sering tak bersahabat dengan aturan-Nya. Dalam bahasa lain, saya merasa seperti seorang budak yang selalu diberi upah, makan, serta kehidupan yang layak, sedangkan saya tak pernah dan jarang sekali berbuat apa-apa untuk Allah. Saya teringat dengan sebuah pemaknaan SYUKUR yang lebih berbeda. Dimensi syukur yang bukan lagi berhenti kepada ibadah-ibadah panjang kita untuk memuja-Nya, bukan lagi tertuju kepada seberapa banyak amalan-amalan harian yang telah kita gariskan ditiap waktunya. Namun, pemaknaan syukur itu telah melompat semua dimensi itu. Ia tak lagi berbicara tentang berapa banyak amal yang telah kita kerjakan untuk Allah, tapi telah menembus batas SEBERAPA BANYAK kontribusi yang kita buat untuk melakukan perubahan. Perubahan yang mampu memberi banyak efek dalam skala yang lebih besar. Perubahan yang dimulai dari hal-hal kecil, namun ketika dia satukan, maka hasil dari pemaknaan kesyukuran ini akan membesar, melegenda, dan mampu menjadi sejarah. Dimensi syukur ini bukan lagi tentang sujud-sujud panjang dalam keharuan rindu kepada-Nya, tapi lebih kepada KATA KERJA. Kita BEKERJA, maka kita BERSYUKUR, kita BERKONTRIBUSI, maka kita BERSYUKUR, kita BERKORBAN, maka kita BERSYUKUR. Syukur bukan lagi tentang bagaimana kita mengingat-Nya dalam kondisi apapun, namun syukur telah kita terjemahkan bersama semangat-semangat membara untuk bekerja.

Read the rest of this entry »

 
6 Comments

Posted by pada 3 AMpThu, 05 May 2011 11:22:53 +000022Kamis 2007 in Ikhwan

 

Kaitkata: ,

Ini Adalah Urusan “Hati”

Bismillah…

Ini adalah urusan hati saudaraku..

Bagian dari tubuh kita yang teramat penting, sampai Rasul-pun mengingatkannya dengan sangat tegas “jika ia baik, maka baiklah anggota tubuh lainnya”. Ini soal hati saudaraku. Hati yang padanya terdapat beribu fatwa atas laku kita, Hati yang padanya berisi berjuta kehendak yang membuat kita bergerak, Hati yang padanya berisi tentang niat-niat langkah kita dalam berbuat. Ini soal Hati saudaraku. Bukan yang lain. Hati yang menjadi penentu diterimanya amal kita, Hati yang menjadi alasan sudah sebaik mana kita dalam berlaku.

Ini adalah urusan Hati saudaraku

Bagian terkecil dalam diri kita yang menjadi penentu atas segala sesuatu. Ketika ia baik, maka tenanglah jiwa ini, lapanglah hati ini. Ketika ia bersinar terang dalam tawadhu, maka jernihlah perkataan lisan ini, putihlah kata-kata yang tertulis di tiap baris hidup ini. Ini soal Hati saudaraku. Bukan yang lain. Hati-lah yang akan menjadi indikasi, engkau sedang dalam kondisi yang baik, atau justru sebaliknya. Ia bukan hanya tersandar dengan sikap-sikap kotor karena bergelimang maksiat, namun ketika kita merasa “besar” dengan amalan yang kita kerjakan-pun, adalah sebuah indikasi sejati, betapa kerdil dan kotornya diri ini.

Read the rest of this entry »

 
5 Comments

Posted by pada 3 PMpTue, 01 Mar 2011 17:10:52 +000010Selasa 2007 in Ikhwan

 

Kaitkata: ,

Bayangkan Saja

Bismillah..

Bayangkan saja, ketika kita terpurukpun Allah ada bersama kita. Memeluk hangat, memberi sebening ketenangan dalam jiwa kita agar bisa berpikir jernih dalam melangkah, bahkan DIA memberi WAKTU bagi kita untuk menata pelan-pelan khilaf-khilaf kita yang terus terjadi.

DIA… DIA.. Allah.. Tuhan kita..

Sadarkah ?

Bayangkan saja, ketikapun kita lalai dalam pijakan kita, yang kemudian kita coba tulis satu persatu menjadi sebuah buku. Maka tidak akan berhenti halaman demi halaman kemaksiatan kita. Satu persatu terbuka dan mulai kita rasa. Bahwa syukur kita, selalu tak sempurna, bahwa sabar ketika, selalu bukan pada hentakan yang pertama, bahwa lalai kita selalu hadir padahal nikmat dari Allah itu tak pernah berhenti mengalir dalam diri kita.

DIA.. DIA.. Allah.. Tuhan kita yang masih memberi semuanya kepada kita..

Sadarkah ?

Bayangkan saja, pun ketika kita tak pernah mengucapkan syukur atas apa yang DIA beri, pun ketika kita malah melalaikan nikmatnya ketika ia bisa kita jadikan sebagai sarana amal kita, ALLAH tidak pernah menghentikan nikmat kehidupan kepada kita. DIA memberi nafas kepada kita, memberi makan kepada kita, memberi minum kepada kita, bahkan memberi kesempatan kepada kita untuk tidur dan beristirahat. Sedangkan kita.. Tak pernah sadar sedikitpun, betapa yang ghaib, yang terjadi dalam hidup kita. Sungguh tak pernah hadir selain tanpa ijin-Nya. Ketika engkau bernafas, membaca tulisan ini, merenung, bergerak, bekerja, bahkan bermaksiatpun, Allah ada bersama kita..

Dia.. DIA… ALLAH…  Tuhan kita..

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 AMpSun, 20 Feb 2011 08:35:13 +000035Minggu 2007 in Ikhwan, Me

 

Kaitkata: , ,

Mimpi Yang Tak Tergapai

Bismillah…

Di setiap kemungkinan yang tersedia, selalu ada banyak kesempatan untuk memberi kita ruang dalam belajar. Entah ia sedikit menyengat kesadaran kita, atau menghentakkan rasionalitas kita pada keterpurukan terhebat. Tetaplah, setiap kejadian sejatinya ia memiliki kelayakan yang sangat pantas untuk dimaknai. Maka seperti itulah gugusan hikmah yang Allah sediakan untuk kita.

Sebuah kalimat sederhana pernah terdengar dan sangat berkesan bagi saya.. “Entah itu kesalahan yang pahit, kekhilafan yang terlampaui pekat, sebuah kejadian, tetaplah kejadian. Dia hadir bukan hanya sekedar memberi setitik warna dalam kehidupan kita, namu juga menjadi kesempatan yang besar buat kita agar mampu belajar. hanya saja, BAGAIMANA, kita memetik hikmahnya adalah kunci dari setiap langkah yang akan kita tapaki kedepannya, apakah ia seputih mutiara ? atau masih sepekat lumpur hitam yang kotor ?”

Dan ketika kita mencoba meraba segala bentuk kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, maka yang akan kita temukan adalah KETAKUTAN, kalau saja apa yang akan ada dihadapan kita tak sesuai dengan HARAP yang pernah ada, atau apa yang akan terjadi nanti tak seindah BAYANGAN kita, atau, bisa saja, justru kemungkinan-kemungkinan yang hadir dalam IMAJI kita, suatu waktu, takkan pernah terjadi. Maka terjadilah KEKECEWAAN. Keterpurukan yang mendalam karena harapan yang membumbung tinggi. Untuk kasus ini, saya akan menyetujui “Bahwa bermimpi.. janganlah terlalu tinggi…” namun jika dipahami, kalimat ini hanya untuk berlaku untuk orang yang BERHARAP pada dunia dengan sepetak HARAP yang terlalu diingini. Jika ini engkau miliki, maka jangan sesali, jika akhirnya segala sesak hadir di dalam diri. Karena memang, sedari awal, yang kau ingini, tak lebih dari ejawantahan nafsu yang kau atasnamakan MIMPI. Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by pada 3 AMpMon, 27 Dec 2010 05:01:10 +000001Senin 2007 in Ikhwan, Ilmu-Islam

 

Kaitkata: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.