RSS

Arsip Tag: Puisi

Tentang Kita

Bismllah…

Mungkin ini sebuah kecukupan rasa. Kecukupan yang selama ini kucari. Kecukupan yang kutemukan semuanya di dirimu. Tahukah kamu cinta ? ada bayang-bayang yang senantiasa bersama. Bayang-bayang tentangmu yang merubah banyak hal tentangku, juga mungkin tentang kita. Kamu tahu dengan sangat gamblang pesan-pesan syurgawi yang kusampaikan. Yang kuujar meski hanya dalam canda. Kamu juga sangat tahu apa-apa yang kurang dari diriku. Namun tahukah kamu cinta ? sampai sekarang aku masih belajar menerima “pengaturan”mu dengan lapang, sebab pada dasarnya, aku cukup sulit menerima sebuah perubahan. Namun, jika banyak yang bilang cinta mampu merubah banyak hal. Maka dengan alasan itu, entah kenapa, aku menyukai setiap perubahan yang terjadi di dalam diri. Menikmati omelanmu yang kadang-kadang segera kuakhiri dengan mencubit hidungmu. Menikmati tiap jengkal diri yang kupikir semakin hari semakin tak biasa dari yang pernah ada.

Tahukah kamu, ada kelegaan yang datang ketika baru saja kudengar senyummu yang renyah, meski penat telah mewarnai hariku. Juga kadang ada sebentuk kesyukuran yang tak bisa kuekspresikan kepadamu, tentang beruntungnya aku memilikimu. Sikapmu yang “biasa-biasa saja” adalah tawa bagiku. Bagaimana bisa, dua orang dengan karakter yang berbeda bisa bersama ? sedangkan aku yang sangat meletup-letup ini bertemu dengan kamu yang “adem-ayem”, sering sekali membuat suasana menjadi kacau, tak sesuai harapanku. Kata-kata “G” besar yang sering kau ucapkan, malah membuatku semakin sering untuk menggombal :D walau aku sudah benar-benar tahu apa reaksimu. Tapi tahukah kamu cinta ? semuanya tak pernah membuatku berhenti untuk mencandaimu. Membuatmu tertawa hingga wajah yang tenang dan penuh senyum itu kembali hadir. Namun bisakah cinta, jika aku berkata, aku juga sering membuatmu bahagia akhir-akhir ini ? :) Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 PMpThu, 22 Sep 2011 23:19:03 +000019Kamis 2007 in Me, Puisi

 

Kaitkata: ,

Rindu Itu

Bismillah…

Rindu itu menusuk-nusuk, ketika suaramu beradu disana. Aku meminta doamu untukku, meski kutahu selalu ada.. Bahkan di tiap jejakmu. Maka menjelmamu dalam rindu-rindu di sujud-sujudku, adalah ungkapan betapa cinta telah Allah anugerahkan kepada kita. Lalu apalagi yang kita butuh jika rasa itu telah saling terpaut ?

Ini gelisah yang berbeda, gelisah yang beradu dengan keyakinan bahwa senyummu selalu akan menguatkan langkah perjuangan ini. Bahwa binar matamu memandang bahuku adalah pemberian kekuatan, karena kau telah membuang jauh air mata setelah berjanji setia untuk menjadikanku sebagai qowwam-mu.

Rindu itu, masih menusuk-nusuk. Namun sungguh, ia bercampur dengan nafas kesyukuran tak tertahankan pada Allah, pada Tuhan kita bersama. Kesyukuran yang tak habis-habisnya seperti merasai kehadiranmu dalam tiap pekur kenikmatan dzikir bersama-Nya. Maka ijinkanlah aku untuk selalu merasakan semuanya sebagai bentuk terindah dari nikmat Allah yang pernah ada selama ini.

Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by pada 3 PMpSat, 09 Jul 2011 21:11:30 +000011Sabtu 2007 in Me, Puisi

 

Kaitkata: , ,

Sajak Sore (2)

Bismillah…

 

Pada tatap siang yang panas, dan gugurnya daun-daun di awal summer. Kau menjadi senyum di tiap hariku

Seperti gelegar petir yang mengaung siang ini. Teriakan dan lecutan semangat tanpa suara darimu selalu terdengar dari sini, “hatiku..”

Namun apakah takdir selalu akan berpihak pada sajak perjuangan? sedangkan Tuhan kita mengatakan, “tak selalu”. Namun setiap usaha, selalu akan ada balasannya

Maka sampai di titik inipun, aku masih berusaha. Mengusahakn yang terbaik agar ketika kita bersama, senyum merekahmu selalu akan menjadi bahagiaku Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 PMpThu, 09 Jun 2011 12:12:00 +000012Kamis 2007 in Puisi

 

Kaitkata:

Sajak Malam (1)

Bismillah…

 

Dalam buram hari yang legam

Serta pada malam-malam panjang yang terasa amat panjang.

Aku tuliskan ini..

Menguraikan kusut yang hangat dipenghujung musim panas

Membuyarkan lamunan yang sering hadir tanpa pernah merasa bersalah. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 PMpSat, 04 Jun 2011 17:07:27 +000007Sabtu 2007 in Puisi

 

Kaitkata:

Sajak Sore (1)

Bismillah…

Aku terpaku dalam sore yang hangat

Dalam kemilau syair yang menentramkan

Serta sebuah pesan singkat yang menggetarkan.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by pada 3 AMpThu, 19 May 2011 09:14:03 +000014Kamis 2007 in Puisi

 

Kaitkata:

(Mungkin) Terasa Lama

Bismillah…

Mngkin terasa lama,

Tapi untk sesuatu yang telah ribuan purnama kunisbahkan padanya tentang tanya, Maka semua ini tak berarti apa-apa. Dan kupahamkan pada hatiku, bahwa tak selamanya, terangnya purnama selalu hadir ketika langit sedang bersih. Sebab dalam ketidak-sempurnaannya-pun, lengkungan cahayanya tetap mampu memberi warna bagi malam. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 PMpThu, 14 Apr 2011 15:18:36 +000018Kamis 2007 in Me

 

Kaitkata:

Keyakinan dan Kekaguman

Bismillah…

Ini bukan tentang sebuah ketersembunyian yang dirasa bagi mereka yang sedang mengidapnya. Namun sebuah bentuk keyakinan yang kokoh dan kuat mengakar di dalam jiwa. Aku tak berani berspekulasi. Namun bisakah kusamakan ia dengan keyakinan yang pernah lahir dari keputusan-keputusanmu yang menyejarah ? keputusan-keputusanmu yang membuat segalanya menjadi berubah. Yang dulunya jengah, terganti dengan ia yang bernama bahagia. Yang tadinya sepi, terhapus dengan ia yang bermakna kebersamaan. Keyakinan yang terlahir atas dasar-dasar pijakan yang benar. Meski hak mutlak untuk mengukurnya, tentu saja hanya Allah Sang Penguasa. Namun indikasi kebenaran tujuan, kelurusan perkataan, sejatinya bisa di ukur, dengan sejauh mana engkau mengambil porsi keyakinanmu itu di dalam jiwa. Tanyakan saja bagi raja di dalam tubuhmu, tanyakan saja pada ia yang sering memberi fatwa, tanyakan saja pada ia yang bernama “hatimu”. Benarkah langkah ini karena-Nya ? benarkah segala kecenderungan-kecendrungan ini terus berkutat karena ALLAH ?. Bertanyalah padanya, ketika kondisimu benar-benar jernih. Ketika amal-amalanmu melangit menerobos mega, ketika singgasana harimu kau raih dengan penghambaan nan sempurna. Tanyakan saja hatimu untuk memfatwakan segala bentuk tendensi atas titik keyakinanmu.

Maka menakar keyakinan, agar ia tak patah semangat. Mempertahankan keputusan yang kokoh agar tetap berdiri tegak, adalah persoalan yang selalu terkait dengan seberapa besar, kecenderungan-kecendruangan fitrahmu mewarnainya. Ada yang kalah, hanya karena terpesona dengan sedikit keindahan dunia, hingga keyakinan itu tak lebih dari sampah yang busuk dan mematikan kehidupan nuraninya. Bahkan ada juga yang mencoba menghalalkan yang diharamkan, padahal sudah jelas-jelas Allah mengaturnya untuk tak kita dekati. Kecendrungan-kecendrungan naluriah itu, cuckupkanlah ia sebagai KEKAGUMAN YANG BIASA. Kekaguman yang TAK berlebihan, kekaguman yang TAK berbuah menjadi simpati yang mendalam, kekaguman yang TAK bisa menghasilkan rasa cinta yang membuncah. Cukupkan saja dengan kekaguman yang biasa, biar yang terasa itu adalah kadar yang tak berlebihan. Biar segalah fitrah yang ada, selalu akan bisa terbersamai dengan kalimat-kalimat pengingat yang berasal dari-Nya.

 
2 Comments

Posted by pada 3 PMpSun, 10 Apr 2011 12:21:26 +000021Minggu 2007 in Me, Puisi

 

Kaitkata: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.