RSS

Arsip Tag: Ramadhan

Sketsa Ramadhan (4) – Sebuah Kesiapan

Bismillah…

Bulan bersinar indah menghiasi langit. Birunya yang jernih memantulkan beribu keindahan malam di musim panas, kuayuhkan sepedaku sepulang dari Masjid Besar setelah buka puasa. Perlahan, kusapu hati yang mulai sedikit lena dengan dunia. Bukan sedikit rupanya, namun terlalu sering jiwa terbuai dengan pesona dunianya. Kemudian, seperti suara-suara penghambaan yang mulai berteriak di pekat malam, disitulah cerita-cerita tentang taubat mulai dilantunkan. Entah akan diterima atau tidak, sungguh menghabiskan detik untuk berdua dengan-Nya adalah sebuah keindahan tentang kehidupan. Disinilah baru kita menyadari, bahwa letak kelapangan jiwa ada pada seberapa dekat engkau dengan-Nya.

Dan seperti malam-malam sebelumnya, kuhabiskan detik bersama simulasi, paper dan referensi thesis yang belum juga menemukan ujungnya. Ini baru jalan awal, namun ia seperti menghabiskan semua waktuku. Membagi ruang untuk bertemu dengan-Nya bersama dengan pikiran yang masih terbawa dengan dunia adalah sebuah seni prioritas. Sering rasanya kalah, karena lebih memilih berjam-jam bersama riset dibanding mulai menelisik kisah-kisah maha dahsyat yang menggetarkan. Seharusnya bisa, karena kita diberi kemampuan untuk merasa. Namun disinilah nafsu terangkai dalam diri seorang manusia. lalai, malas, dan semua berkaitan dengan keengganan akan menemanimu. Hingga kemudian, berjuta detik yang berlalu kemudian, akan menuliskan betapa telah kita sia-siakan waktu yang berlalu. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 PMpSun, 22 Aug 2010 18:12:02 +000012Minggu 2007 in Taiwan-Studi

 

Kaitkata: , ,

Sketsa Ramadhan (2)

Bismillah…

Cerah… Itulah kata yang terungkap ketika kulayangkan pandanganku dari lantai 6 gedung Laboratoriumku. Lampu-lampu berpijar menyusuri hangatnya subuh di musim panas. Ramadhan masih terlalu indah untuk sekedar dipandang. Sebab semakin engkau terus coba menelisik keindahan penghambaanmu, maka engkau akan semakin rindu dengan bulan mulia ini. Wajar saja, jika Ramadhan seperti tetesan air yang membasahi kehausan para musafir di gurun pasir. Ia seperti bukit-bukit hijau yang memberi udara segar bagi bumi, Ramadhan adalah bulan penyegaran. Menata hati yang terlalu kotor, mengatur irama hidup yang sudah terlewat lalai, bahkan meluruskan langkah yang sejujurnya selalu saja tak lurus kepada-Nya. Inilah ramadhan-Nya, bulan penuh gairah untuk tunduk pada-Nya.

Meski Ramadhan-Nya adalah cerita tentang penyegaran, sayangnya, tidak semua orang mampu merasa segar dengan kehadirannya. Ada yang melewati harinya tanpa makan, kemudian yang ia dapatkan bukanlah kelapangan, namun yang tersisa adalah penyiksaan Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 PMpThu, 12 Aug 2010 22:02:38 +000002Kamis 2007 in Ikhwan, Ilmu-Islam, Me

 

Kaitkata: ,

Sketsa Ramadhan (1)

Bismillah…

Ketika matahari akhirnya bersinar terang lalu birunya langit ada dalam hitungan-hitungan detik disiang hari. Semesta seakan bertasbih, bernyanyi riang bersama waktu yang berkejaran di bulan mulia ini. Inilah Ramadhan-Mu, bulan yang telah dinanti oleh para penghamba-Mu, waktu yang telah ditunggu oleh mereka yang rindu kepada-Mu, saat yang selalu dirindui oleh mereka yang benar-benar mencintai-Mu. Ramadhan-Mu adalah sketsa perjalanan tentang penghambaan. Ia adalah penguat bagi langkah-langkah kaki yang mulai goyah karena terkikis oleh dunia pada hari-hari sebelumnya. Ramadhan-Mu, adalah bulan perbaikan. Ramadhan-Mu adalah bulan penuh cinta.

Dalam sebuah kisah, seorang Arab Badui pernah datang kepada Nabi Saw, lalu bertanya,

“Wahai Rassulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang apabila aku mengerjakannya, masuk surga. Rasul Saw. menjawab, Sembahlah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu… dan kerjakan puasa Ramadhan” (1) Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 PMpWed, 11 Aug 2010 22:50:17 +000050Rabu 2007 in Dakwah, Ilmu-Islam

 

Kaitkata: , ,

Epilog Kemenangan

“Kemenangan yang hakiki ada pada kemerdekaan hati dan kelapangan jiwa. Ia hadir ketika pekat hitam noda yang menempel telah terhapus oleh amalan yang bercahaya lagi mengakar. Maka retaslah jalan kemnangan itu, walau lelah terkadang mengharuskan kita untuk rehat sejenak. Namun pastikan, semangat itu tetap membara, melintasi zaman, melintasi waktu, menerobos ruang dan mendobrak rasa suka dan tak suka”

Bismillah…

Episode Ramadhan telah berlalu. Bulan yang senantiasa dirindukan orang-orang yang mencintai-Nya, bulan yang selalu diimpikan oleh para pencari kenikmatan jiwa, saat paling bahagia bagi orang-orang mukmin dan menjadi madrasah terbaik untuk mencapai derajat Takwa. Ramadhan senantiasa menghadirkan sejuta cahaya bagi gelapnya hati, selaksa harap bagi beribu cita dan menjadi taman terindah untuk menentramkan raga.

Derajat takwa yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi para pemenang ramadhan sejatinya bisa kita ukur dengan melihat seberapa jauh kepekaan batin kita terhadap nikmat-Nya, seberapa lembut perasaan kita, seberapa sering rasa takut mendera di dalam jiwa dan sejauh mana kewaspadaan kita terhadap godaan dunia. Sayyid Quthb, dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an menuliskan “Itulah takwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan.. jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, harapan semu atas segala sesuatu yang tidak diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti.. dan masih banyak duri-duri lainnya”. Takwa yang akan menghantarkan seseorang untuk menghapus kebengisan hawa nafsu yang menguasainya, ia yang akan membinasakan semua keinginan-keinginan dunia yang mengakar kuat di pikirannya. Jalan takwa adalah jalan cahaya lagi melapang.

Seorang pemenang yang hakiki, bukanlah ia yang hanya mampu menggenggam kemenangan pada waktu yang singkat, bukanlah seseorang yang mencatatkan keberhasilannya hanya dalam hitungan hari maupun bulan, tapi ia adalah pemenang abadi, pemenang yang takkan terkalahkan oleh putaran waktu, ruang mapun kondisi. Dan Ramadhan adalah madrasah terbaik untuk mencapai kemenangan ini. Di bulan inilah kita diajarkan untuk bangun di sepertiga malam terakhir, peka dengan panggilan azan, dekat dengan al qur’an, bahkan mendatangi majelis-majelis ilmu dengan penuh antusias. Ramadhan mengajarkan segalanya dan memberikan kita banyak bekal untuk bertahan selama 11 bulan kedepan. Lalu, sejatinya apakah hakikat kemenangan Ramadhan yang seharusnya kita miliki? Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 AMpSun, 01 Nov 2009 08:47:29 +000047Minggu 2007 in Ikhwan, Ilmu-Islam

 

Kaitkata: , ,

Pengalaman I’tikaf di Taipei

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bismillah…

Pengalaman menarik bisa menikmati suasana Ramadhan di Taipei. Pengalaman yang tentu tidak akan saya dapatkan di negeri sendiri. Lebih menyenangkan kah ? Maka jawabannya, bahagia atau tidak bahagia, senang atau tidak senanga ada pada kelapangan hati menerima semua ktentuan-Nya. Jadi, saya cukup menikmati kehidupan ramadhan disini. Apalagi ditambah dengan makanan gratis selama 20 hari melakukan puasa di Taipei

Tepat memasuki hari ke-20 Ramadhan, aktivitas I’tikaf dimulai. Tempatnya di Taipei Cultural Mosque (Masjid Kecil). Masjid ini dimakmurkan oleh Jama’ah Tabligh dari Pakistan. Mereka sangat baik melayani para jama’ah disana. Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 PMpFri, 18 Sep 2009 21:33:49 +000033Jumat 2007 in Ilmu-Islam

 

Kaitkata: , ,

(Tadabbur Al-Qur’an) Al-Hasyr : 18-19

“Wahai orang-orang yang beriman. bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan…..

…Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”

(Q.S. Al-Hasyr : 18-19)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bismillah…

Berharap pada Allah dengan penuh cita, seperti menikmati keindahan ruhani dan kelezatan jiwa yang tiada bandingannya. Allah dengan segala ketentuannya mengantarkan manusia-manusia menjemput dimensi takdir yang telah dia pilih sebelumnya. Setiap orang mempunyai waktu dan kesempatan yang sama untuk memilih jalan takdir hidup kita. Namun, kita memiliki energi yang berbeda untuk melangkah, kekuatan yang tidak sama untuk memilih sebuah keputusan, juga bekal keimanan yang bertingkat-tingkat untuk dijadikan sumber kebenaran.

Perbedaan energi dan kekuatan ini yang akan membuat hasil yang berbeda antar setiap insan. Orang yang menggunakan kadar keimanan melebihi yang lainnya, yang menggunakan kebersihan jiwa (ruh) melewati nafsunya, yang menggunakan kebeningan hatinya melompati rasa suka dan tak suka atas perintah-Nya akan memilih jalan terbaik dalam hidupnya. Jalan itu adalah jalan Taqwa. Sedangkan orang-orang yang tidak memiliki bekal keimanan yang cukup, serta dikelilingi oleh dorongan nafsu yang juga sepadan, membuatnya akan memilih jalan kehancuran. Jalan yang akan menghantarkan mereka menuju cahaya kegelapan. Neraka yang panas dengan air yang mendidih, asap yang hitam lagi menakutkan dan terasa sangat tidak menyenangkan (Al-wa’qiah 42-44). Itulah jalan fujur, jalan kesengsaraan.

Saudaraku…

Allah SWT, mengingatkan kepada kita untuk senantiasa memperbaharui Takwa, karena ia adalah sebaik-baiknya bekal untuk kampung akhirat kita. Bahkan, dalam Q.S. Al-Hasyr ini, Allah memfirmankannya sebanyak dua kali… “Bertakwalah kepada Allah… dan Bertakwalah kepada Allah” Pengulangan kata takwa ini menjadi pengingat kepada kita bahwa Takwa adalah bekal terbaik seorang mukmin dalam meniti hidupnya.. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 AMpThu, 10 Sep 2009 06:43:22 +000043Kamis 2007 in Ilmu-Islam

 

Kaitkata: , , ,

Indahnya Ramadhan di Taipei (1)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bismillah….

“Tenang aja akh… bekal segitu cukup.. Insya Allah berkah Ramadhan menanti”
Begitulah sms singkat  dari pa Zul, sebelum saya berangkat menuju Taipei, ketakutan tidak bisa mencukupi kehidupanku sebelum beasiswa turun bulan depan, membuatku menanyakan persoalan jumlah uang yang kita siapkan.

Dan benar saja, tepat ketika tiba di NTUST, 30 menit kemudian, sudah menaiki bus menuju Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. “Buka Puasa Bersama”… Itulah agendanya.
Kaki sudah pegel sebenarnya, sebab perjalanan yang cukup menegangkan dan melelahkan sebelum tiba disini.

Hujan deras menyambut buka puasa malam itu. Bertemu dengan pejabat perwakilan Indonesia di Taiwan, para TKI, serta mahasiswa-mahasiswa yang lain. Juga pertama kali belajar menaiki MRT. Sebuah pengalaman berpuasa yang menyenangkan menurutku.

Di Taipei, Ramadhan terasa begitu semarak.
Ada dua Masjid yang menyiapkan Buka Puasa rutin. Grand Mosque (Masjid Besar) dan Taipei Cultural Mosque (Majid Kecil). Menunya macam-macam.

Di Masjid Besar disediakan menu berbuka seperti Bubur Kacang Hijau atau Bubur ayam serta kurma dan beberapa buah (untuk makanan pembuka sebelum sholat), sedangkan untuk makanan “berat” biasanya dihidangkan daging sapi dan ayam. Jadi sebenarnya cukup menjadi sarana penggemukan badan dan penambah gizi Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 AMpMon, 07 Sep 2009 02:13:23 +000013Senin 2007 in Me, Taiwan-Studi

 

Kaitkata: , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.