Bismillah…
Perutku sudah mulai keroncongan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 malam. Seperti biasa, warung Indonesia adalah tujuanku. Kali ini, karena sepeda sedang rusak, akhirnya bus adalah alternatif yang dipilih. Perjalanannya sebenarnya cukup cepat menuju tempat makan, hanya saja, karena di jalanan lampu merah bertebaran di sepanjang perjalanan, jika naik bus menuju warung makan, maka bisa menghabiskan kurang lebih 10 menit. Ku berlari kecil menuju halte Bus, Alhamdulillah, bus No. 1 yang merupakan satu-satunya bus menuju warung Indo sedang berhenti, biasanya cukup jemu juga menunggu bus No. 1 nongol di depan kampus. Seperti malam lainnya, banyak penumpang yang selalu mengisi penuh tempat duduk meski para orang tua selalu di beri prioritas untuk mendapatkan kursi khusus buat mereka. Tak berapa lama, tiba juga di depan warung Sakura. Milik orang Indonesia (Jawa) yang menikah dengan seorang warga Taiwan asli.
Gurami goreng, sayur kangkung dan nasi. Itulah menuku. Kupilih tempat duduk yang berdekatan dengan dua ibu-ibu yang sudah bisa dipastikan adalah para TKW yang sering datang ke warung ini. Sengaja memang, biar bisa berbincang-bincang dengan mereka. Sepertinya bakat saya cepat akrab dengan Ibu-Ibu dan anak-anak masih melekat
kalau balik ke Ternate dulu, sering jadi tempat curhatnya ibu-ibu tetangga. Walah-walah.. padahal biasanya niatnya cuma silaturahmi, eh, malah di ajak cerita soal RT mereka, sampe hal-hal yang sangat sensitif
“ga usah pake sumpit mas, kelamaan..” Sapa seorang Ibu muda, yang kutaksir usianya belum 40 tahun. mungkin sekitar 35 tahun. Rupanya beliau “gerah” lihat saya yang kesulitan memotong gorengan ikan gurami yang cukup keras dengan sumpit.
“Ok… baiklah bu.. Sepertinya pakai tangan lebih enak..” Sengaja kuturuti, padahal sebenarnya mau belajar make sumpit biar semakin mahir
Read the rest of this entry »


