RSS

Sebuah Pertanyaan

Bismillah…

Hendak ku mulai mengukur diri. Melihat sejarah yang penuh cahaya di ribuan tahun lalu. Ketika gigilan Sang Manusia mulia terhamburkan dalam pelukan Khadijah Sang Mujahidah Sholehah sembari lirih berkata “Selimuti aku.. Selimuti aku..”. Keringat dingin keluar dari tubuhnya ketika menyaksikan Jibril datang di antara langit dan bumi, mengirimkan pesan dari Allah sembari menisbatkannya sebagai utusan pembawa RIsalah cinta dari Tuhan untuk dunia. Maka Sang Manusia Mulia ini, telah mengajarkan kita sesuatu, bahwa membawa kata-kata Tuhan ke bumi itu bukan perkara ringan, maka tak sepantasnya kita meringan-ringankan pekerjaan itu, sedang Sang Rasul mulia meletakkan keseluruhan hidupnya untuk jalan ini. Jalan dakwah yang (katanya) kita adalah bagian darinya…

Aku juga mulai menelaah pengorbanan Abu Bakar Ash-sidiq, generasi awal sahabat paling mulia yang membawa Risalah nabi dengan keindahan akhlaq-nya. Bukan hanya akhlaq-nya, tapi ia adalah sosok berwibawa dan paling jujur di kalangan quraisy meski status sosialnya paling rendah di antara mereka. Perangainya yang santun, hatinya yang lembut, dan jiwa sosialnya yang begitu kuat mampu menggulirkan dakwah dalam sebuah proses yang luar biasa. Dengan hasil yang cemerlang tiada terkira. Dialah seorang yang membenarkan Rasul, ketika yang lain tidak. Dialah tonggak gerbang masuknya beberapa sahabat mulia yang kemudian mengindahkan jazirah arab dan dunia hingga kini. Darinya, setidaknya kita belajar, bahwa dakwah itu KETELADANAN, dakwah itu harus dilakukan oleh mereka yang perangainya mulia, oleh mereka yang dekat dengan bangsanya, oleh mereka yang benar-benar paham seluk-beluk lingkungannya. Dakwah itu sebuah totalitas yang tak bisa main-main dijalankan. Ia harus purna, tak terbatas oleh ruang juga waktu. Ia harus selalu ada seburuk apapun kondisi kita.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 PMpSun, 08 Jan 2012 12:30:10 +000030Minggu 2007 in Dakwah

 

Kaitkata: ,

(Kumpulan Twitt) Kenangan Kisah Pernikahan Saya

Bismillah..

Sharing perjalanan “gila” ketika menjelang dan masa2 awal nikah ah.. #Nikah

Waktu akad sudah di tetapkan, 2 Juli 2011, tapi jadwal sidang Thesis belum ada. Bingunglah saya. Tapi ya sudahlah nekat aja, lulus g lulus, PULANG #nikah

Akhirnya, dengan bekal do’a dan usaha yang habis2an, 2 pekan sebelum hari akad, jadwal sidang saya keluar. tepatnya 19 Juli 2011 #nikah

Saya akhrnya meyakinkan istri bahwa saya akan lulus, tapi kmngknan 1 pekan setelah #nikah harus pisah selama 1 bulan. Alamaaak.. :D

Sebulan menjelang kepulangan saya, 25 juni 2011, adalah malam2 “gila”. Tidur di lab 2 minggu, makan tak teratur, alhasil saya kena herpes zoaster #nikah

Saya off riset hampir2 pekan, off aktivits keluar kota juga. Banyak di pake merenung, tapi tambah yakin, sebentar lagi masa bahagia itu tiba #nikah

Prof. saya masih belum puas dengan riset saya sampe ktika saya nikah. Jadi, selama pulang nikah itu, saya belum pasti bisa LULUS #nikah

Sy janji ke Prof. “I will finish the writing of my Thesis in Indonesia”, but he replied “I’m sure, u can not finish it”. #nikah

Mngkn dy tahu, kalo masa bulan madu itu masa terindah, jd nda akan ingat yg lain.. nda percaya? rasakan sendiri :P  #nikah

sy smpt mngrjkn thesis sekali, 2 hari sblm #nikah, tp begitulah, hasilnya NOL BESAR. Pesan moralnya, JANGAN #nikah PAS LG PUNCAK THESIS

di tgh keraguan sy lulus atau tdk, akhrnya, tgl 25-06-11, sy kmbl ke Indonesia, dan uniknya,Istri jg pulang ke Indo tgl segitu #nikah

Secara tak sengaja kami balik sama2, tapi beda maskapai dong. Sy Chatay, beliau Garuda. yg jelas naik Garuda lbh asyik #nikah

sedari awal, kami berencana tdk barengan pulangnya, tp jadinya barengan jg. Sy tiba pukul 8 malam di SBY, beliau jam 11 malam #nikah Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 AMpTue, 27 Dec 2011 09:10:14 +000010Selasa 2007 in Me

 

Kaitkata: , ,

Senyawa Keabadian

Bismillah…

Di senja yang berkemilau. Pengangan tanganmu yg erat sungguh masih membekas hingga kini. Tentu saja, ia adalah rahasia yang tak bisa dibahasakan dengan prosa terindah dimanapun. Karena momen yang berharga itu, selalu takkan terganti. Senja antara Malang-Surabaya telah menjadi potret manis tentang kita berdua. Hingga sampai detik inipun aku masih merasainya. Meresapi getarannya.

Di dingin Batu Malang yang pekat, kita pernah beradu manja dalam kerlingan rasa yang memabukkan. Setelah sujud panjang bersama menunggu mentari menjadi purna. Kau menjelma bak pelangi penghias langit di kala hujan mereda. Gelora itu begitu luar biasa, sampai detik inipun, kesannya masih begitu terasa. Beginikah rasanya jika cinta telah merenggut habis semuanya? hingga tak ada lagi kesal yg meresak masuk ke dalam dada, namun yg tersisa adalah kenangan tentangmu yg selalu indah dan mempesona.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 AMpFri, 09 Dec 2011 07:03:14 +000003Jumat 2007 in Me, Puisi

 

Kaitkata: , ,

(Cerpen) Beginikah Cinta? (1)

Aku berlari dengan nafas memburu. Otakku seakan berhenti berpikir, dada sesak, penuh, semua sesal dan sedih berkecamuk jadi satu. Kususuri jalanan kampus yang masih sedikit basah karena hujan kemarin malam. Aku benar-benar kalut. Bingung. Pikiranku mulai bergumam sendiri dengan batinku.

“Beginikah jadinya? Beginikah rasanya mengakhirkan harapan?

Beginikah rasanya menghentikan cinta yang sudah terlanjur dalam?.

Aku harus berkata apa? Bertanya pada siapa?”

Jalanan ini tentu saja takkan memberi jawab. Sore menuju senja yang selalu indah ini tentu saja takkan menenangkanku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain kekalutan yang luar biasa menghinggapi dada.

“Haruskah melepasmu cinta? Melepas segala rasa yang tumbuh subur merekah hingga kini dan entah kapan berakhirnya?

Haruskah ku bunga jauh-jauh penggal harap yang entah kenapa masih membuatku sesak ketika kutahu aku tak bisa memilikimu cinta?

Haruskah aku membalikkan semua waktu agar perasaan ini tidak pernah ada di dalam diri? Atau setidaknya..

Ahh.. Allah.. mungkinkan kau ijinkan aku mengembalikan kekosongan jiwa agar yang terisi hanya KAMU? Hanya KAMU ya Rabb.. Hanya KAMU.. hanya KAMU yang kucinta. Mungkinkah ya Rabb?”

Dadaku semakin sesak. Air mata lagi-lagi dengan tak sopannya keluar tanpa pernah mau kuperintahkan. Aku laki-laki, dan kini aku menangis.

“Aku benci dengan perasaan ini. Benci dengan keadaan ini.

Aku sadar aku harus bangkit. Tak boleh lemah hanya karena kehilangan kesempatan merealisasikan harapku.

Aku tak boleh kalah, hanya karena imaji yang sedari dulu kubangun akhirnya pergi dan menghilang tanpa bekas. Aku benci dengan semua perasaan yang telah porak-poranda ini. Aku harus bangkit. Tak boleh seperti ini.”

Kukuat-kuatkan hatiku agar tetap seperti dulu. Tenang dan segar. Namun percuma. Setiap larian kecilku mengelilingi kampus hijau ini, membuatku semakin tergugu. Pikiranku tak bisa untuk kuhentikan dalam mengingat sang permata jiwa. Semua kenangan seperti tergambar jelas dibenakku. Kenangan tentangnya semua menyeruak tanpa tahu betapa aku sakit ketika mulai mengingatnya. Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by pada 3 AMpTue, 06 Dec 2011 06:27:14 +000027Selasa 2007 in Me

 

Kaitkata: ,

#Cinta

Bismillah..

Orang menamakannya #cinta yang defenisinya sampai saat ini tak berwujud, tak terjemahkan.

Mungkin karena ia berkaitan dengan rasa, hingga pemahamannya tak lagi bisa dianalogikan dengan apapun, sebab #cinta hanya untuk dirasa.

Sayangnya, #cinta merebut semua tempat di seluruh bagian hidup seseorang. Yang lemah menjadi kuat, yang sombong menjadi rendah hati, bahkan yang penakut menjadi sang pemberani. Karena #cinta, dalam arah positif-maupun negatif, perubahannya selalu akan mengagetkan.

Kalau #cinta menjadi begitu penting bagi hidup seseorang, maka segalanya akan direbut olehnya. Bekerja karena #cinta, berkarya karena #cinta, hingga berlelah-lelah karena #cinta.

Namun sayangnya, ketika #cinta hanya terpahami sbg kata benda, ia kemudian menjadi roman picisan yg tak bermakna lagi sia-sia. #cinta hanya menjadi rasa yg memabukkan. Setiap helaan nafas adalah #cinta, setiap langkah adalah #cinta, namun ia begitu melemahkan.

#cinta yg terjemahkan dalam kata benda, hanya memberi kebahagiaan rasa tanpa merubah banyak hal, bahkan justru banyak yang melemahkan. waktu kita terkuras habis dengan #cinta, pikiran tersita habis karena #cinta, hingga setiap detik yg terlewati hanya ada #cinta di dalamnya.

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by pada 3 AMpMon, 28 Nov 2011 11:27:12 +000027Senin 2007 in Me, Puisi

 

Kaitkata:

Karena Kamu

Bismillah…

Kau adalah bait-bait terindah dalam puisi-puisi penantianku di waktu dulu, hingga sampai detik inipun. Keindahan maknanya masih terasa. Sebab kamu hadir setelah do’a dan ikhtiar panjang nan melelahkan yang kulakukan. Dan untuk kesekian kalinya. Kau memberi banyak sekali arti bagi diri. Arti yang sangat rumit untuk kuterjemahkan.

Kau adalah bait-bait terindah dalam puisi-puisi tentang cinta di waktu sekarangku, hingga sampai kapanpun, do’aku adalah kau tetap menjadi yang terindah di hati, yang termanis dalam perjalanan panjang cinta kita. Dalam tiap debar hangat karena sakinah yang terlahir dalam kebersamaan. Ungkapan tentang semangat memperbaiki diri dalam mawaddah dan rahmah yang kita usahakan bersama. Sampai kapanpun, aku ingin kita seperti itu. Seperti puisi-puisi nan menggairahkan yang telah kita sempurnakan bersama.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 PMpSun, 20 Nov 2011 13:49:37 +000049Minggu 2007 in Me

 

Kaitkata: , ,

Lalu Siapa?

Bismillah…

Kalau bukan karena Allah, lalu siapa yang bisa menjamin jiwa ini masih hidup senantiasa. Juga nyawa ini masih lapang dalam melangkah. Kalau bukan karena Allah, lalu siapa?

Kalau bukan karena Allah, lalu siapa yang bisa memberi nafas dalam kesegaran. Juga memberi nikmat yang tak berpenghabisan, hingga kitapun tenang, tanpa kurang satu apapun. Kalau bukan karena Allah, lalu siapa?

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by pada 3 AMpSat, 19 Nov 2011 05:24:12 +000024Sabtu 2007 in Taiwan-Studi

 

Kaitkata:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.