Bismillah…
Hendak ku mulai mengukur diri. Melihat sejarah yang penuh cahaya di ribuan tahun lalu. Ketika gigilan Sang Manusia mulia terhamburkan dalam pelukan Khadijah Sang Mujahidah Sholehah sembari lirih berkata “Selimuti aku.. Selimuti aku..”. Keringat dingin keluar dari tubuhnya ketika menyaksikan Jibril datang di antara langit dan bumi, mengirimkan pesan dari Allah sembari menisbatkannya sebagai utusan pembawa RIsalah cinta dari Tuhan untuk dunia. Maka Sang Manusia Mulia ini, telah mengajarkan kita sesuatu, bahwa membawa kata-kata Tuhan ke bumi itu bukan perkara ringan, maka tak sepantasnya kita meringan-ringankan pekerjaan itu, sedang Sang Rasul mulia meletakkan keseluruhan hidupnya untuk jalan ini. Jalan dakwah yang (katanya) kita adalah bagian darinya…
Aku juga mulai menelaah pengorbanan Abu Bakar Ash-sidiq, generasi awal sahabat paling mulia yang membawa Risalah nabi dengan keindahan akhlaq-nya. Bukan hanya akhlaq-nya, tapi ia adalah sosok berwibawa dan paling jujur di kalangan quraisy meski status sosialnya paling rendah di antara mereka. Perangainya yang santun, hatinya yang lembut, dan jiwa sosialnya yang begitu kuat mampu menggulirkan dakwah dalam sebuah proses yang luar biasa. Dengan hasil yang cemerlang tiada terkira. Dialah seorang yang membenarkan Rasul, ketika yang lain tidak. Dialah tonggak gerbang masuknya beberapa sahabat mulia yang kemudian mengindahkan jazirah arab dan dunia hingga kini. Darinya, setidaknya kita belajar, bahwa dakwah itu KETELADANAN, dakwah itu harus dilakukan oleh mereka yang perangainya mulia, oleh mereka yang dekat dengan bangsanya, oleh mereka yang benar-benar paham seluk-beluk lingkungannya. Dakwah itu sebuah totalitas yang tak bisa main-main dijalankan. Ia harus purna, tak terbatas oleh ruang juga waktu. Ia harus selalu ada seburuk apapun kondisi kita.







